Viewers :)

Selasa, 29 Desember 2009

29 desember 2009

ingin teriak sebenernya....
pgn bangggeeeddd ngeluarin apa yang aku rasa tapi seperti nya itu mustahil....

aku bosen sama kata-kata itu..cape dengernya....gg pengen denger lagi...
Ya... Allah aku tau ini semua udah menjadi jalan hidup ku....
aku terima semua ya dengan ikhlass......
Engkau Maha tau apa yang ku simpan dalam hati ku yang tak dapat aku ungkapkan...Engkau Maha tau apa yang harus aku lakukan....tolong bnatu aku....menghilangkan semua yang buruk dari dalam hati ku.....

huuaaaaaaaaaaaa................
semua pikiran ini semua rasa yang ada membuat aku tersiksaaa........
aku makin binun... gg tau lagi lah harus gmn?
ingin semuanya kembali seperti semula....tapi....sulit ku rasa.....
andai....(hhaaa.. berandai2 mulu gw...)
udah ahh....
gg penting bgt rasa nya.....!
aku terhanyut dalam sebuah suara hening nan sepi

ketika aku terbuai dalam benturan fana

sayup teriak anak kecil galau terdengar dari lubang kecil

panggilannya semakin dekat

oh Tuhan

terdampar mataku kutipan suara angin.....

kurasa dan kuhampa

sesungguhnya dia adalah diriku yang merana

oleh : SUPERDUPER.AL

Kamis, 10 Desember 2009

CO2 Tidak Signifikan Pengaruhi Perubahan Temperatur

CO2 Tidak Signifikan Pengaruhi Perubahan Temperatur

[CO2 Tidak Signifikan Pengaruhi Perubahan Temperatur]

Jakarta (ANTARA) - Konsentrasi gas CO2 (karbondioksida) di atmosfer tidak signifikan mempengaruhi perubahan temperatur udara karena banyak hal lain penyumbang pemanasan global yang perlu diteliti lebih lanjut, kata seorang peneliti.

Kesimpulan penelitan itu disampaikan peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Dr Ir Chunaeni Latief Msc, dalam orasi pengukuhannya sebagai profesor riset Indonesia di Jakarta, Rabu.

Ia menyebutkan radiasi inframerah yang diserap CO2 memiliki puncak spektrum 2,7 lalu 4,3 dan 15 um, yang bersumber dari radiasi panas 800,343 dan -80 derajat Celcius. Ketiga sumber temperatur tersebut sulit diperoleh dari sumber black body (sifat yang dimiliki CO2) di bumi.

Ketiga temperatur itu hanya bisa bersumber dari gunung berapi dan daerah stratosfer (lapisan atmosfer) ke atas, jadi bukan panas permukaan bumi. Dengan demikian black body di permukaan bumi sangat kecil pengaruhnya terhadap pemanasan global, kata Chunaeni.

Menanggapi tudingan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang CO2 sebagai sumber pemanasan global, Chunaeni menyatakan itu tidak benar.

Berdasarkan penelitian yang ia lakukan di Bandung, Jawa Barat, kemudian di Watukosek, Jawa Timur, dan Pontianak, Kalimantan Barat, konsentrasi CO2 di daerah itu tidak berpengaruh signifikan pada kenaikan temperatur, khususnya di permukaan daerah tersebut.

Konsentrasi CO2 di tiga daerah tadi sekitar 400 ppm, jauh di bawah 714 ppm.

Ditanya mengenai hasil penelitiannya yang bertolak belakang dengan isu pemanasan global yang menyebut bahwa CO2 sebagai sumber utama peningkatan temperatur di bumi, Chunaeni menyatakan bahwa isu itu sengaja dilontarkan negara-negara maju untuk kepentingan bisnis dan politis.

Selama ini Chunaeni bersama Lapan telah membangun Instrumen Satklim-1A yang dimanfaatkan untuk meneliti gas rumah kaca (GRK) khususnya CO2 vertikal. Walaupun banyak kendala yang dihadapi, instrumentasi Satklim-1A telah diujicobakan pada 2006 untuk mengukur CO2 vertikal di Bandung dan Watukosek.

Sejalan dengan sistem pengamatan GRK vertikal, dikembangkan juga instrumentasi Sains Atmosfer dan Iklim Lapan untuk CO2 bawah atau permukaan (Satklim LPN-1B) yang digunakan untuk memonitor CO2 permukaan secara tetap.

Perjalanan pengembangan instrumentasi Satklim LPN-1A, menurut Chunaeni, dapat disimpulkan bahwa instumentasi itu dapat digunakan untuk penelitian CO2 vertikal dan dapat dikembangkan untuk penelitian horisontal jarak jauh termasuk parameter atmosfir lain dengan menggunakan wahana balon.

Kemudian hasil pengukuran konsentrasi CO2 vertikal fluktuatif tergantung pada bulan atau musim saat itu. Hasil analisis menunjukkan CO2 tidak signifikan mempengaruhi perubahan temperatur karena banyak hal lain yang perlu penelitian lebih lanju.

Penelitian CO2 membuka peluang penelitian fenomena konveksi, dinamika atmosfer, kemungkinan munculnya lapisan CO2 di atmosfer atas dengan fenomena pendingin, dan fenomena lain.

(yahoo! indonesia news)

Peneliti LAPAN: Fenomena 2012 Siklus 11 Tahunan

[Peneliti LAPAN: Fenomena 2012 Siklus 11 Tahunan]

Jakarta (ANTARA) - Seorang peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyatakan fenomena meningkatnya aktivitas matahari yang menurut ramalan suku Maya terjadi pada 2012 tidak perlu dikhawatirkan apalagi dihubungkan dengan hari kiamat.

Peneliti astronomi dan astrofisik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang baru saja dikukuhkan sebagai profesor riset Indonesia Dr Thomas Djamaluddin Msc, Rabu, menyatakan tidak ada yang istimewa dari fenomena alam 2012 itu karena hanya siklus 11 tahunan meningkatnya aktivitas matahari.

"Fenomena 2012 yang menghebohkan masyarakat lebih banyak berawal dari ramalan suku Maya, bukan berasal dari alasan ilmiah. Kalau kemudian memang ada fenomena 2012 alasan ilmiahnya apa? Tapi yang lebih banyak diungkapkan justru bukan sainsnya," kata Thomas usai dikukuhkan sebagai profesor riset di kantor Lapan Jakarta.

Menurut Thomas, fenomena aktivitas puncak matahari sebelumnya diperkirakan terjadi pada 2011, namun titik minimumnya bergeser sehingga diperkirakan terjadi pada 2012. Namun, sekarang pun ada pergeseran lagi sehingga kemungkinan terjadi pada 2013.

Secara alamiah, tegas Thomas, tidak ada yang istimewa karena itu merupakan siklus 11 tahunan. "Terakhir terjadi pada 1989 kemudian pada 2000, dan nanti 2012 atau 2013 akan terjadi lagi."

Orang kemudian mengkhawatirkan terjadi badai matahari, padahal tidak akan ada badai matahari dahyat yang menimbulkan dampak parah.

Badai matahari pada dasarnya adalah fenomena bumi yang sering terjadi bukan saja saat aktivitas matahari mencapai puncak, tetapi saat aktivitas mulai naik hingga turun lagi tetap ada badai matahari.

Artinya memang frekuensi kejadiannya lebih banyak pada saat puncak. Tetapi, menurut Thomas, kekuatan terbesarnya belum tentu pada saat puncak. Sering kali yang paling kuat justru setelah puncak.

"Katakan puncak yang lalu terjadi di 2000, tetapi aktivitas matahari yang paling besar, yang paling kuat justru terjadi pada 2003," katanya.

Perbincangan fenomena aktivitas matahari ini juga berkembang, yang kemudian dikaitkan lagi dengan seolah-olah akan ada tumbukan komet.

"Itu juga secara astronomi tidak ada buktinya. Tidak ada informasi atau perkiraan akan ada komet besar yang menabrak bumi pada 2012. Kemudian ada lagi yang memperkirakan ada planet Nibiru, padahal planet Nibiru tidak dikenal dalam astronomi," jelas Thomas.

Berbagai perbincangan mengenai fenomena 2012, seperti seolah-olah berdasarkan teori astronomi ada asteroit besar yang akan menghantam bumi, sama sekali tidak punya dasar atau tidak ada alasan astronominya.

"Jadi pada dasarnya kekhawatiran 2012 lebih banyak terkait dengan penafsiran ramalan suku Maya, dan oleh ketua suku Maya sendiri sudah menyatakan bahwa 2012 bukan akhir dan itu hanyalah pergantian item kalender yang biasa," kata dia.

Menurut Thomas, dampak dari badai matahari yang ditimbulkan dari percikan partikel matahari dan menimbulkan medan magnit itu selama ini hanya berdampak pada keberadaan satelit di orbit dan terhadap transformer fasilitas jaringan listrik.

Badai matahari dapat menimbulkan induksi ke fasilitas jaringan listrik sehingga terjadi kelebihan beban dan bisa menyebabkan trafo meledak atau terbakar. Sampah Antariksa Dalam orasi ilmiahnya pada pengukuhannya sebagai profesor riset bersama Dr Ir Chunaeni Latief Msc, Thomas juga menyatakan bahwa wilayah Indonesia yang dilalui garis ekuator cukup panjang rentan menjadi tempat jatuhnya sampah antariksa yang sekarang kian banyak.

"Sampah antariksa semakin lama semakin banyak. Yang terpantau oleh sistem jaringan pemantau internasional ada sekitar 13 ribu lebih dan ancamannya bisa mengganggu satelit aktif. Dan salah satunya pernah, sampah antariksa bekas satelit Rusia menabrak satelit aktif karena semakin banyak satelit di antariksa kemungkinan bertabrakan semakin besar," katanya.

Indonesia yang berada di garis ekuator memiliki kemungkinan lebih besar untuk terkena risiko jatuhnya sampah antariksa dibanding kawasan lain. Oleh karena itu Indonesia harus selalu waspada karena berada pada wilayah yang sering dilalui orbit satelit.

Hal itu harus menjadi perhatian Lapan dalam memberikan pelayanan informasi potensi bahaya benda jatuh dari antariksa sehingga kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dapat dinetraliskan, demikian Thomas Djamaluddin.

Bersama Thomas, peneliti Lapan Dr Ir Chunaeni Latief Msc juga dikukuhkan sebagai profesor riset dalam bidang Opto Elektronika dan Aplikasi Laser. Dalam orasinya ia lebih mencermati kandungan dan efek emisi gas rumah kaca (CO2) dan pemanfaatan instumensi Satklim LPN-1A untuk penelitiannya yang bermanfaat bagi dunia penerbangan, dan kajian pemanasan global.


(yahoo! indonesia news)

Kamis, 03 Desember 2009

Mengapa menahan bersin berbahaya ?????

VIVAnews - Tahukah Anda, kecepatan bersin manusia bisa mencapai 160 km/jam? Artinya, bila Anda menahan bersin, maka tubuh harus mengatasi perubahan akibat tekanan kuat yang masuk kembali ke dalam saluran pernapasan. Tekanan tersebut bisa menyebabkan kerusakan pada gendang telinga.

Karena itu, menurut John Pan, MD, kepala Pusat Pengobatan Integratif di George Washington University Medical Center seperti vivanews kutip dari Womansday, bersin yang ditahan akan memaksa bakteri kembali masuk ke dalam rongga hidung dan kanal telinga, sehingga bisa menimbulkan infeksi.

Jika infeksi makin parah, kondisi ini bisa menyebabkan pecahnya gendang telinga yang berujung pada kehilangan pendengaran. Yang perlu Anda tahu, saluran hidung dan mulut yang menjadi sarana keluaran bersin berhubungan juga dengan telinga.

Bersin sebetulnya berguna menjaga agar hidung tetap bersih (cleansing effect). Udara yang mengembus kuat dengan tekanan tinggi dari paru-paru mendorong keluar melalui hidung dan mulut. Refleks bersin itu bisa terjadi berulang-ulang, sehingga diharapkan pembersihan bisa maksimal.

Agar tidak mengganggu kesehatan Anda maupun orang-orang di sekeliling, daripada bersin ditahan, lebih baik tutuplah hidung dengan tisu atau saputangan ketika Anda bersin

By Petti Lubis

Rabu, 02 Desember 2009

miss u--

hari ini (01 Des 09) aku merasa kehilangan mu sahabat...tanpa senyum mu aku merasakan rasa kehilangan....
apa yang harus aku lakukan...???
aku merindukan tawa mu lagi kepada kU...

aku tau aku pantas mendapatkan ini semua....
aku tau aku memang mungkin tak bisa lagi menjadi sahabat mu lagi atau teman mu...
aku sadar itu...

tapi aku sanggaaaattt kehilangan mu....
kehilangan senyumm itu....
dan perhatiaaann mu....

mungkin sudah bosan kau mendengarnya.....
tapi aku benar2 minta maaf....
aku menyayangi mu sahabat......